Sekjen FSGI Nilai Indonesia Belum Siap Terapkan ‘Full Day School’

BABAT POST – Akhir-akhir ini dunia pendidikan Indonesia dikejutkan dengan gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang ingin menerapkan “Full Day School”.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti pun menilai sekolah di Indonesia belum siap untuk melaksanakan kebijakan kokurikuler yang digagas oleh Muhadjir Effendy itu. Hal itu terkait dengan infrastruktur sekolah yang belum merata.

Read More

“Infrasutruktur yang harus dipersiapkan saja tidak cukup 5 tahun karena negeri ini luas dengan jumlah sekolah dan siswa yang begitu besar, berkali-kali lipat Eropa,” kata Retno dalam pesan singkat, Jumat (12/8/2016).

Berita Terkait :  Dua Korban Kebakaran Kelapa Gading Dijemput Keluarga

Retno menyebutkan infrastruktur yang diperlukan di antaranya seperti ruang seni, laboratorium, dan perpustakaan yang dipenuhi oleh buku-buku sastra.

Retno mengatakan, rata-rata jam belajar sekolah di Eropa telah menggunakan kokurikuler. Di sana, siswa masuk jam 08.00-16.00.

“Tapi istirahatnya 5 kali. Ada makan siang bersama yang disediakan negara. Kalau untuk SD bahkan ada tidur siang di sekolah. Disediakan fasilitas tidur. Jumlah siswa juga hanya 20 orang maksimal 1 kelas,” ucap Retno.

Retno menuturkan, sekolah di Eropa memiliki fasilitas yang sangat lengkap untuk pengembangan diri siswa.

Berita Terkait :  Materi 'Full Day School' Akan Disesuaikan Dengan Cara Kerja Otak Anak Didik

Sementara di Indonesia, lanjut dia, masih jauh dari kondisi tersebut. Retno berharap kebijakan pendidikan yag dibuat harus berdasarkan pada fakta, data, kajian, dan analisa yang mendalam. Terlebih, kebijakan yang menyangkut nasib jutaan anak dan masa depan Indonesia.

Gagasan kokurikuler yang dicetuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menuai polemik di masyarakat. Gagasan kokurikuler itu sebelumnya dikenal publik dengan sebutan “full day school”.

Berbagai pihak dari mempertanyakan penerapan kokurikuler. Masyarakat bahkan membuat petisi dalam jaringan berjudul “Tolak Pendidikan “Full Day”/SehariPenuh di Indonesia”.

Berita Terkait :  Kepri tidak terlibat pembukaan koridor perjalanan Indonesia-Malaysia

Namun demikian, Muhadjir mengatakan wacana kokurikuler tetap berjalan. Menurut Muhadjir, penerapan kokurikuler akan terus dikaji dan disiapkan teknis pelaksanaannya.

“Full day (sehari penuh) jalan. Teknisnya belum, tetapi insya Allah jalan,” kata Mendikbud seusai berkunjung ke SMK Muhammadiyah Imogiri Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (10/8/2016).

Sebelumnya, dalam kesempatan yang berbeda, Muhadjir mengaku tidak bermasalah jika program kokurikuler batal diterapkan. Muhadjir mengatakan akan mencari program lain yang lebih tepat untuk masyarakat.

“Kalau tidak (diterapkan) ya enggak apa-apa, kami tarik (programnya) saya coba cari pendekatan lain,” ujar Muhadjir di bilangan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (9/8/2016).

Related posts